Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat

AQUA Fasilitasi Pembentukan Bank Sampah Induk Bogor


published on March 01, 2017

AQUA Grup bersama pemerintah Kota Bogor memfasilitasi terbentuknya Bank Sampah Induk pada November 2016 lalu. Program Bank Induk Sampah ini terbentuk atas inisatif Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS 3R) dan bank sampah unit dari kelompok swadaya masyarakat. Tujuannya adalah mewadahi TPS 3R dan bank sampah unit wilayah yang punya visi misi sama untuk membuat Kota Bogor lebih bersih.  Program ini juga merupakan bagian dari upaya membantu seluruh wilayah di kelurahan agar tidak mengalami kesulitan dalam penjualannya, karena seluruh sampah akan dikumpulkan secara terpusat.  Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup kota Bogor, saat ini ada 25 buah TPS 3R dan 65 bank sampah unit yang tersebar di 68 kelurahan. Dengan adanya program ini maka TPS 3R dan bank sampah unit akan menjadi anggota Bank Sampah Induk.

Biasanya sampah yang paling banyak terkumpul berupa plastik, kertas, dan logam. Sampah organik dikelola secara swadaya oleh masyarakat untuk dibuat kompos. Sampah logam dan plastik non botol dijual ke pelapak di sekitar Bogor. Sementara sampah botol plastik dijual ke Recycling Business Unit (RBU) Tangerang Selatan yang merupakan dampingan AQUA Grup. Penjualan botol plastik ke RBU merupakan bagian dari kerja sama antara bank sampah induk dengan AQUA Grup untuk meningkatkan collection rate RBU sekaligus memberikan kepastian penjualan bagi bank sampah induk.  Sampai akhir tahun 2016,  tercatat sudah terkumpul sebanyak 13 kg sampah dari 17 tempat yang terdiri dari bank sampah unit, TPS 3R dan pelapak.

Saat ini bank sampah induk masih mengalami beberapa kendala, salah satunya persoalan sumber daya manusia.  Belum adanya karyawan tetap membuat pengurus harus mempekerjakan tenaga supir, pengangkut dan pemilah sampah secara lepas. Hal ini berdampak pada sulitnya memenuhi target kuota pembelian dari RBU. Kendala ini harus diatasai dengan strategi jemput bola.  “Kita harus jemput bola ke tiap bank sampah unit, TPS 3R, dan pelapak agar kuota tiap bulannya tercapai.” Ujar Junaedi, Project Manager Program pengelolaan sampah.

Pengurus Bank Sampah Induk berharap akan lebih banyak bank sampah terbentuk, sehingga lebih banyak sampah plastik yang bisa dikumpulkan. Menurut mereka akan lebih baik jika bank sampah dibangun di sekolah atau di kampus.  Oleh karena itu, pihak Bank Sampah Induk sudah banyak menemui rekan-rekan mahasiswa. “Kita bantu dampingi jika mereka ingin membuat bank sampah sendiri. Atau jika mereka mau mengumpulkan sampah-sampah ke kita pun akan kita terima. Kan lumayan uangnya bisa digunakan untuk kegiatan mahasiswa,” tutur Darga.