published on April 08, 2016

Biasanya kegiatan di tempat pembuangan akhir (TPA) tidak jauh dari aktivitas pengelolaan sampah. Kita lazim melihat pemulung mengaduk-aduk  tumpukan sampah. Mereka mencari barang yang masih bisa dijual kembali tanpa menghiraukan bau dan lalat yang beterbangan. Tidak jarang kita juga melihat anak-anak pemulung melakukan aktivitas serupa. Kebanyakan anak pemulung berusia sekolah lebih memilih memulung dari pada sekolah. Banyak faktor yang menyebabkan mereka membuat pilihan tersebut., Di antaranya karena melihat teman sebaya yang bisa menghasilkan uang dari memulung.  Namun ada juga  yang disebabkan karena lokasi sekolah yang jauh dari TPA dan harus melewati jalan besar sehingga menakutkan bagi anak-anak yang masih kecil.

Program Pemberdayaan Pemulung AQUA, yang didanai oleh Danone Ecosystem, melalui Koperasi Pemulung Tangerang Selatan berupaya agar anak-anak pemulung tetap mendapatkan pengetahuan. Caranya  dengan memberikan pendidikan informal kepada mereka.  Sekitar tahun 2011, program menjalankan kursus Bahasa Inggris dan komputer untuk anak-anak pemulung  yang berusia sekolah 10-13 tahun. Namun karena kegiatan ini dilakukan di kantor koperasi yang letaknya jauh dari TPA kegiatan ini dihentikan.  Ketiadaan kendaraan dari TPA Cipacang ke kantor koperasi di Pamulang menjadi salah satu alasannya.  “Sebenarnya anak-anak itu senang ikut kursus yang kita berikan,” ujar Pak Yanto, Kepala Sumber Daya Koperasi Pemulung Tanggerang Selatan. “ Sayangnya kami tidak bisa menyediakan kendaraan bagi mereka.” tambahnya.

Menyadari bahwa kedekatan lokasi menjadi salah satu faktor penting bagi terlaksananya kegiatan pendidikan informal, Koperasi berupaya mendekatkan kegiatan tersebut dengan anak-anak pemulung. Untuk itu, sejak Februari 2013, pengurus koperasi mengajak Kantor Perpustakaan Daerah Tanggerang Selatan menyediakan layanan perpustakaan keliling di TPA. Setiap hari Kamis, minggu ke dua dan ke empat, sekitar 27 anak pemulung berusia 3 hingga 11 tahun mendatangi halaman depan tempat  pengelohan sampah di mana bis perpustakaan keliling di parkir. Mulai dari pukul 11 hingga 14.00 WIB, anak-anak tersebut dapat memanfaatkan fasilitas perpustakaan keliling.  Selain membaca buku-buku yang tersedia, mereka juga dapat menonton film dan mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh petugas perpustakaan. Film dan dongeng dipakai sebagai media pendidikan untuk mengenalkan angka dan huruf  bagi anak-anak yang belum sekolah atau yang tidak bisa baca-tulis. Sementara untuk anak sekolah yang sudah bisa baca tulis, film menjadi membantu mereka mereka memahami pelajaran di sekolah. Mereka  mendapatkan penjelasan mengenai teori–teori  dalan pelajaran IPA dan IPS melalui film-film kartun. Film dan dongeng juga digunakan untuk menyisipkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup; seperti nilai-nilai agama, sopan santun, kebersihan dll. Agar anak-anak pemulung di TPA Cipacang tetap semangat mendatangi perpustakaan keliling, setiap minggu keempat diadakan lomba menggambar dan mewarnai yang hadiahnya berupa alat-alat tulis dan makanan ringan.   

Menurut Pak Yanto, sampai saat ini anak-anak pemulung di Cipacang masih antusias mendatangi perpustakaan keliling. Selama lima bulan kegiatan perpustakaan keliling berjalan, para pemulung yang merupakan orang tua anak-anak ini juga tidak menunjukan sikap keberatan jika anak-anak mereka menghabiskan waktu di perpustakaan keliling. “Mayoritas pemulung, seperti orang tua pada umumnya, ingin anak-anaknya bersekolah agar ketika besar tidak jadi pemulung” ujar Pak Yanto menjelaskan.