Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat

RBU Tangerang Selatan Bantu Hidupkan Kembali Bank Sampah Mekarsari


published on March 03, 2017

Mengumpulkan sampah bukan merupakan kegiatan yang lazim dilakukan oleh kebanyakan orang. Hal tersebut dikarenakan banyak orang memandang sampah sebagai barang yang tidak memiliki kegunaan dan nilai jual. Lain halnya dengan yang dilakukan oleh warga Mampang, Jakarta Selatan. Mereka rajin mengumpulkan sampah semenjak didirikannya Bank Sampah Mekarsari.

Bank Sampah Mekarsari yang terletak di RW 05 ini mulai beroperasi sejak tahun 2014 dan menjadi bank sampah pertama di Kelurahan Mampang. Pencetusan ide bank sampah tersebut berasal dari masyarakat dengan bantuan sarana penunjang dari perusahaan swasta di Indonesia. Perusahaan tersebut juga melakukan pendampingan dalam membentuk organisasi kepengurusan serta memberikan pelatihan tentang pemilahan sampah.

Bank Sampah Mekarsari menarik antusiasme warga untuk turut berpartisipasi dalam mengumpulkan dan menyetorkan sampah. Setiap dua minggu sekali, tepatnya pada hari Selasa, warga mendatangi Bank Sampah Mekarsari yang berlokasi tepat di depan kantor kelurahan untuk memilah dan menimbang sampah yang telah dikumpulkan. Jumlah sampah yang terkumpul kemudian dicatat di buku tabungan masing-masing. Selain warga, sekolah-sekolah yang berlokasi di sekitar Bank Sampah Mekarsari juga turut menyumbangkan sampah yang telah terkumpul di lingkungan mereka. Setiap bulannya, Bank Sampah Mekarsari dapat mengumpulkan hingga 2 ton sampah yang 50% nya berupa sampah plastik. Sejumlah 40% dari sampah plastik tersebut merupakan sampah botol plastik yang nantinya akan dijual kepada pengepul.

Namun besaran jumlah penjualan sampah masih terlalu kecil baik dari segi kuantitas sampah maupun harga yang diberikan pengepul. Kondisi tersebut menyebabkan bank sampah dan nasabahnya tidak mendapatkan hasil yang menguntungkan. Selain itu, sistem penjualan yang tidak rutin menyebabkan terjadinya penumpukan sampah. Penumpukan sampah tersebut sempat berdampak pada turunnya antusiasme warga untuk mengumpulkan dan menyetorkan sampah. 

Pada tahun 2016, Yayasan Pelangi yang merupakan mitra LSM AQUA Grup mulai melakukan pendampingan untuk memberdayakan Bank Sampah Mekarsari. Atas dukungan AQUA Grup sebagai fasilitator, Yayasan Pelangi kembali menjalankan sosialisasi tentang pentingnya bank sampah kepada masyarakat. Yayasan Pelangi juga melakukan pendampingan terhadap pengurus bank sampah untuk mengelola operasional bank sampah termasuk mengembangkan sistem pengumpulan sampah yang lebih efektif. Perubahan yang paling krusial adalah terbukanya akses Bank Sampah Mekarsari untuk menjual secara langsung sampah botol plastik dan cup pada Recycling Business Unit (RBU) di Tangerang Selatan milik AQUA Grup.

Setiap waktu penimbangan sampah tiba, RBU tersebut melakukan penjemputan untuk kemudian mengangkut seluruh sampah botol plastik dan kemasan cup yang terkumpul di Bank Sampah Mekarsari. Waktu penjemputan yang rutin dan harga yang adil ditetapkan oleh RBU sehingga Bank Sampah Mekarsari dapat mengelola perputaran kas pendapatan dengan jumlah sampah yang masuk secara stabil. Sistem yang tertata dengan rapi tersebut kembali menghidupkan antusiasme warga untuk mengumpulkan dan menyetorkan sampah. Sampah yang tidak dapat dijual ke RBU tetap dapat dijual kepada pengepul sementara sebagian sampah juga didaur ulang menjadi tas, tempat pensil, dompet, dan bentuk kerajinan tangan lainnya. Hasil kerajinan tangan ini biasanya dijadikan cinderamata apabila ada kunjungan serta dijual di acara yang diselenggarakan pemerintah maupun acara bertema lingkungan.

Walaupun tujuan utama pendirian bank sampah adalah untuk mewujudkan kebersihan dan kelestarian lingkungan, namun penambahan nilai ekonomis pada sampah tentunya juga turut memacu antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Saat ini Bank Sampah Mekarsari memiliki 160 nasabah aktif yang rutin menyetorkan sampah. Ibu Djuharida Machmud atau Ibu Ida, Ketua Pengurus Bank Sampah Mekarsari beranggapan bahwa keberadaan bank sampah tersebut turut meningkatkan kesadaran warga akan kebersihan lingkungan sekitar.

Menurut Bu Ida, saat ini warga sangat aktif dalam mengumpulkan sampah. “Setiap bepergian, seperti ke pasar, ibu-ibu ini membawa tas untuk mengumpulkan sampah yang mereka temui di jalan,” ujar Ibu Ida. “Sekarang mereka malah berebut dan berlomba untuk mengumpulkan sebanyak mungkin,” tambahnya sambil tertawa. Bu Ida berharap agar selanjutnya selain jumlah sampah yang terkumpul, jumlah nasabah yang bergabung pun  dapat semakin bertambah. “Semoga kedepannya Bank Sampah Mekarsari dapat menjadi percontohan untuk wilayah sektoral, sehingga makin banyak masyarakat yang teredukasi akan hal ini,” tutup Bu Ida.